9.01.2010

Tsa’labah bin Hatib Al-Anshari

Tsa’labah bin Hatib Al-Anshari adalah orang yang hidup di jaman Nabi saw. Ia seorang ahli ibadah, ahli pengajian, mudah menerima nasihat, dan juga tidak pernah ketinggalan salat berjamaah dengan Nabi saw. Hanya ia termasuk golongan orang-orang miskin dan melarat.

Suatu ketika Tsa’labah memohon kepada Rasulullah agar didoakan menjadi orang yang berkecukupan. Lalu Rasulullah saw. menasehatinya, bahwa harta sedikit yang disyukuri jauh lebih baik dari pada harta banyak tetapi tidak dapat disyukuri. Namun Tsa’labah pun bersikukuh dan bersumpah kepada Rasulullah atas nama Allah, jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya pasti akan kutunaikan kewajibanku terhadap orang-orang yang berhak. Melihat keseriusan Tsa’labah Rasulullah pun mengabulkan permintaannya sambil memberikan seekor kambing betina yang sedang bunting kepadannya. Beliau berdoa “Allohummar Zuq Tsa’labata Malan” (ya Allah, berilah Tsalabah rezeki berupa harta)



Dengan kambing pemberian Rasulullah saw. itulah Tsa’labah mulai membuka peternakan. Dalam waktu yang relatif singkat ternaknya berkembang biak dengan cukup pesat. Karena semakin banyak binatang ternaknya itu hingga memenuhi lorong-lorong di Madinah Tsa’labah pun pindah ke tempat yang agak jauh dan lebih luas. Setelah pekerjaannya bertambah banyak, kesibukannya dari hari ke hari tanpa henti, ia mulai lalai dari salatnya.

Pertama ia hanya melaksanakan salat dhuhur dan ashar saja itu pun dijama’ (dikerjakan pada satu waktu).
Kedua ia hanya melaksanakan salat jumat saja. Karena terus-menerus bertambah banyak kesibukannya, akhirnya ia meninggalkan seluruh kewajiban salatnya. Kesibukannya menutupi jalan untuk beribadah kepada Allah. Ia lupa akan jati dirinya. Sejak itu putuslah hubungan baik dengan para sahabatnya. Ia tidak pernah lagi menerima nasehat dan mendengarkan pengajian. Hatinya tidak mendapat siraman Alquran.

Ketika turun ayat “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, (karena) dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka, karena doa kamu itu (menjadi) ketenteraman bagi jiwa mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
QS. At-Taubah : 103

Maksud ayat ini, bahwa zakat itu dapat membersihkan dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta benda. Dan juga zakat itu dapat menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalan hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.
Kemudian Rasulullah saw. mengutus dua orang sahabatnya (yang satu dari Bani Juhainah dan yang satu lagi dari Banu Sulaim) untuk mengambil harta zakat dari orang-orang kaya termasuk Tsa’labah.

Ketika kedua utusan Nabi itu mendatangi Tsa’labah untuk mengambil harta zakat sambil membacakan ayat Alquran tadi (QS. At-Taubah : 103), ia malah mengatakan, “Pergilah kamu kepada yang lain terlebih dahulu, setelah itu mampir kembali kepadaku”. Akan tetapi setelah kedua utusan itu mendatangi lagi Tsa’labah, ia mengatakan,”Pergilah kamu berdua hingga aku selesai berfikir-fikir dulu”. Maka pergilah kedua orang itu dengan tangan hampa. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari Tsa’labah. Apa yang dikatakan Tsa’labah pada waktu miskin terhapus setelah ia kaya-raya. Demikianlah terus menerus bertambah parah penyakit batinnya. Ia dikendalikan oleh kelobaan dan ketamakan terhadap harta bendanya.

Setelah itu, turunlah ayat mengenai ikrar seorang munafik yang tidak dapat dipercaya. Yaitu, “Dan di antara mereka ada yang berikrar kepada Allah; Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunianya itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati-hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah (mati), karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan Allah amat mengetahui segala yang ghaib?
QS. At-Taubah 75-78.

Selang beberapa lama setelah turun ayat ini, Tsa’labah mendatangi Nabi saw. dan menyodorkan harta zakat untuk mengambil simpatiknya. Beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menghalangiku untuk menerima zakatmu”. Lalu Nabi saw. mengambil segenggam tanah dan dihamburkannnya di atas kepala Tsa’labah seraya bersabda,’Ini adalah balasan amalmu selama ini, karena aku telah memerintahmu untuk taat akan tetapi kamu tidak mentaatinya”.

Demikian juga ketika Tsa’labah mendatangi Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan (setelah Nabi wafat) sambil menyodorkan harta zakat, mereka semua menjawab seperti yang Nabi katakan. Mereka tidak menerima zakatnya. Akhirnya Tsa’labah pun mati dalam keadaan munafif di jaman Utsman bin Affan.
Hr. Ibnul Mundzir dari sahabat Abu Umamah

Apa yang dialami Tsa’labah di atas, nampaknya hingga kini masih terdapat duplikatnya. Terbukti hingga kini, mungkin pernah atau sering kita mendengar orang yang dulunya miskin dan melarat kemudian setalah kaya-raya dan terhormat, ia berubah total. Yang tadinya taat jadi khianat. Yang tadinya baik menjadi jahat. Ia lupa akan kewajibanya sebagai orang kaya. Ia merasa semua kekayaanya hasil jerih payahnya semata-mata. Janji dianggap permainan dan hukum Allah dipandang sepi.

Akibat dari perbuatan itu, Allah bisa menimbulkan kemunafikan pada hati mereka hingga ajalnya karena dua sebab, yaitu menyalahi janji dan selalu berdusta. Inilah sumber yang menjadi sebab orang terjerumus ke dalam kemunafikan, karena ingkar janji dan selalu berdusta merupakan ciri khas bagi orang-orang munafik. Relevan dengan sabda Nabi saw. “Ada tiga tanda orang munafik, yakni, Jika berkata ia dusta, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia khianat”.
Hr. Al-Bukhari dan Muslim.

Kita selaku umat islam wajib berhati-hati kepada orang-orang munafik, sebab mereka hanya akan memanfaatkan di saat mereka butuh. Tapi setelah kebutuhan mereka terpenuhi mereka akan menjauhi bahkan akan mencampakkan diri kita. Imam Al-Maraghi mengatakan,”Orang-orang yang seperti mereka akan selalu ada dan kita bisa temukan di setiap tempat dan waktu”.

0 komentar:

 
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - Studio Rekaman - Alat Recording