9.01.2010

MENDIDIK MENGUSAI DIRI

Nabi Muhammad saw. mempunyai dua orang putera yang bernama Ibrahim dan Al-Qasim. Keduanya diwafatkan oleh Allah swt. dalam usia yang masih relatif kanak-kanak, sebab mungkin bila keduanya hidup terus hingga dewasa atau bahkan hingga tua  khawatir orang-orang menganggap mereka juga para nabi sebagai pelanjut Rasulullah saw. Padahal tidak akan ada seorang nabi pun yang diutus Allah setelahnya (la nabiyya ba’dah).

Ada beberapa pelajaran yang akan kita raih daari wafatnya putera Rasulullah yang bernama Ibrahim. Ibrahim wafat tepatnya pada hari terjadinya gerhana matahari pada zaman itu, hingga banyak orang mengira bahwa terjadinya gerhana ini karena kematian seseorang yaitu, kematian Ibrahim. Hal itu sampai ke telinga Rasulullah saw. Kemudian beliau salat khusuf berjamaah
lalu berkhutbah di hadapan orang-orang dan meluruskan akidah mereka yang salah, bahwa terjadinya gerhana ini bukan karena kematian atau lahirnya seseorang, tetapi gerhana ini merupakan salah satu tanda dari kekuasaan Allah swt.

Ketika Ibrahim wafat, terlihat oleh Abdurrahman bin Auf Rasulullah meneteskan air mata. Beliau menangis karena kehilangan putera yang sangat dicintainya. Nampaknya Abdurrahman bin Auf heran, mengapa Rasulullah saw. menangis karena kematian anaknya. Padahal beliau sendiri yang menerangkan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (kullu nafsin dzaiqotul maut). Beliau juga yang menerangkan bahwa ada kehidupan sesudah mati.

Sesungguhnya rasa sedih yang dialami oleh Rasulullah saw. di atas menunjukkan bahwa beliau itu manusia biasa, sama seperti kita semua, yang akan sedih bila ditimpa musibah, akan sakit bila dipukul, akan marah bila dihina dan lain-lain. Hal ini menunjukkan juga bahwa Nabi saw. sehat jiwanya, normal insting atau nalurinya, sebab orang yang tidak sehat jiwanya, tidak jalan insting atau nalurinya, ia tidak akan sedih melihat anaknya mati tenggelam, tidak akan merasa susah ditimpa suatu musibah dan lain-lain.

Akan tetapi, walaupun Nabi saw. itu sedih, beliau tidak melakukan perbuatan-perbuatan dan tidak mengucapkan perkataan kecuali yang diridai oleh Allah. Sebab kesedihan itu tidak akan menghalalkan yang haram. Islam melarang orang memukul-mukul wajahnya, merobek bajunya, atau menjerit-jerit, walaupun ia merasa sedih ditinggal mati oleh orang yang dicintainya, sebab hal itu perbuatan-perbuatan orang-orang jahiliyah. Pada saat kematian Ibrahim Rasulullah saw bersabda,”Air mataku berlinang dan aku sangat sedih atas kematianmu wahai Ibrahim, tetapi aku tidak melakukan pebuatan kecuali yang diridai Allah”. (al-hadis)

Mendidik mengusai diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak layak tentu tidak hanya pada saat terkena musibah kematian seseorang yang dicintai, seperti yang dialami oleh Rasulullah saw. di atas, tetapi dalam masalah apapun kita harus pandai mengendalikan diri kita, termasuk di saat marah, sebab pada saat marah biasanya orang sangat mudah sekali berkata kotor atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Oleh karena itu, pantas saja bila Rasululalh saw. menyatakan, bahwa orang yang paling kuat itu ialah yang dapat mengendalikan marahnya.

Hal ini tercantum dalam hadis riwayat Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata,”Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,”Bukanlah orang yang kuat itu yang sering membanting orang, (tapi) sesungguhnya orang yang kuat itu tiada lain melainkan orang yang bisa mengendalikan dirinya di saat marah”. Dan di dalam hadis lain, masih riwayat Al-Bukhari, Rasulullah saw. pernah memberi wasiat kepada seseorang yang meminta diwasiati. Beliau bersabda,”Janganlah kamu marah”. Nabi mengulangi sabdanya itu hingga tiga kali.

Maksud sabda Nabi saw. tentu  bukan tidak boleh marah, tetapi janganlah rasa marah itu menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu yang bukan-bukan, jangan menggerakkan lidah mengucapkan yang sesuatu yang dilarang oleh agama walaupun dalam keadaan marah. Bahkan di dalam  Alquran disebutkan, bahwa di antara ciri-ciri orang yang takwa itu adalah, yang dapat menahan (mengendalikan) marah dan memaafkan kesalahan orang lain, karena hal ini sulit sekali dilakukan. Allah swt. berfirman,”(Di antara ciri-ciri orang yang takwa itu ialah) yang menahan marah, memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajkan”. Q.S. Ali Imran:134.

Sedangkan dalam ayat lain, Allah swt. berfirman,”… dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf”.
Q.S. Asy-Stura:37)

Ternyata hal ini pernah dialami oleh Imam Al-Bukhari. Ketika pelayannya (hamba sahayanya) sedang menyediakan hidangan untuk para tamu, ia kehilangan keseimbangan, sehingga makanan yang dibawanya jatuh menimpa pakaian yang sedang dipakai oleh Imam Al-Bukhari. Seketika itu juga muncullah naluri amarah dari diri Imam AlBukhari, beliau tidak mampu menahan dan menghalanginya. Demikianlah manusia, ia tidak akan mampu menahan dan menghalangi naluri marahnya. Hal ini menunjukkan sehat jiwanya. Tetapi walaupun beliau marah, tindak-tanduk dan perkataannya tetap terjaga baik. Beliau tidak melakukan perbuatan kecuali yang diridai Allah. Pada saat itu, Imam Al-Bukhari malah melakulan tindakan dan perkataan yang jauh dari sangkaan hamba sahayanya, bahkan beliau memaafkannya. Hamba sahaya itu pantas mendapat hukuman karena kesalahanya, tetapi jauh dari perkiraan, Al-Bukhari malah mengatakan,”Anta Hurrun Biwajhillah” Kamu (sekarang) merdeka (tidak jadi hamba sahaya lagi), aku lakukan  karena Allah”.

Sebagai penutup marilah kita perhatikan dan renungkan sebuah riwayat di bawah ini yang hampir mirip dengan kejadian yang menimpa Imam Al-Bukhari.
Dari Ali bin Al-Husain, bahwasanya hamba sahaya wanita miliknya menuangkan air wudhu kepadanya untuk bersiap-siap melaksanakan salat. Kemudian wadah air yang dipegang hamba sahaya itu jatuh menimpa Ali dan melukainya. Lalu Ali mengangkat kepalanya (dalam keadaan marah). Maka hamba perempuan itu berkata, Sungguh Allah telah berfirman,”…(ciri orang takwa itu) adalah yang (dapat) menahan marah”. Ali berkata,’Sungguh aku telah menahan marahku’. Hamba itu berkata lagi,”Dan memaafkan kesalahan orang lain”. Ali berkata,’Sungguh Allah telah memaafkanmu”. Hamba itu berkata lagi,”Allah itu menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Ali berkata,”Pergilah kamu! Kamu aku merdekakan karena Allah”.
H.r. Al-Baihaqi

0 komentar:

 
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - Studio Rekaman - Alat Recording