9.01.2010

BERTAKWALAH SELAMANYA


"Hai Orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
Q.S. Ali Imran : 102

Melalui ayat di atas, Allah swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, artinya tidak boleh setengah-setengah tetapi harus sepenuhnya. Takwa yang dimaksud di sini adalah takwa dalam bentuk keimanan dan ketauhidan, sebab takwa dalam bentuk keimanan dan ketauhidan harus seratus persen adanya, tidak boleh kurang sedikit pun. Oleh karena itu, tidak bisa orang beriman kepada Allah, di samping itu, ia juga beriman/percaya kepada tuhan selain Allah. Allah berfirman: “Dan katakanlah, haq (kebenaran) itu hanya dari Allah, Barangsiapa yang mau beriman, berimanlah! Dan Barangsiapa yang mau kufur, kufurlah, (tidak ada pilihan)”.
QS. Al-Kahfi:29

Begitu juga takwa dalam arti menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang haram, hal ini harus dilakukan sepenuhnya. Rasulullah bersabda,”Hindarilah segala sesuatu yang haram, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling beribadah kepada Allah”.
HR. Ibnu Majah.

Berbeda halnya dengan takwa kepada Allah dalam bentuk ibadah dan amal saleh, Allah mengizinkan melakukannya sekuat tenaga, yakni sebatas kemampuan. Seperti orang yang tidak bisa mengeluarkan zakat, infak atau sadaqah karena ia seorang yang fakir, atau orang yang tidak bisa melakukan ibadah haji karena tidak mampu, baik dari segi materi atau fisik. Begitu juga kita diizinkan salat wajib sambil duduk, bila tidak mampu berdiri. Allah swt berfirman: “Maka bertakwalah kepada Allah sekuat tenaga kamu (sebatas kemampuan kamu), dengarlah, taatlah, dan nafkahkanlah (harta kamu dalam kebaikan) pasti itu akan menjadi kebaikan bagi kamu. Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran jiwanya (ia mampu, rela serta ikhlas berkurban dengan harta, tenaga dan pikiran sekuat tenaganya, sebatas kemampuan), maka merekalah orang-orang yang beruntung”
QS. At-Taghabun:16

Dalam ayat lain Allah berfirman:

"Allah tidak membebani satu jiwa melainkan sesuai dengan kemampuannya."
QS. Al-Baqarah 286

Adapun contoh takwa dalam bentuk keimanan, seperti beriman kepada Alquran. Orang tidak bisa beriman kepada Alquran hanya sebagiannya, dan kafir kepada sebagiannya lagi, mengamalkan sebagian Alquran dan mengabaikan sebagiannya lagi, sebab pada hakikatnya kafir kepada sebagian Alquran berarti kafir kepada keseluruhannya. Firman-Nya –wa man yakfur minal ahzabi fan naru mau’iduhu”- “Barangsiapa yang kafir kepada sebagian Alquran, maka neraka bagiannya”.
QS Hud:17

Ibnu Mas’ud berkata, yang dimaksud dengan- Ittaqulloha haqqa tuqotih- (takwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya) adalah, taatlah kepada Allah, jangan pernah bermaksiat, berdzikirlah kepada Allah, jangan tidak berdzikir, dan bersyukurlah kepada Allah, jangan melakukan kekufuran.
 H.r. Al-Hakim

Inti dari perkataan Ibnu mas’ud adalah, orang yang beriman itu jangan pernah melakukan kemaksiatan atau dosa sedikit pun, sebab jika itu dilakukan, nerekalah bagiannya, sedang nereka adalah sebuah tempat yang makhluk hidup manapun tidak akan sanggup untuk diam di dalamnya.

Sebagai perbandingan, marilah kita perhatikan sabda Rasulullah saw.:

Jikalau satu percikan zaqqum (makanan ahli neraka) dilemparkan ke dunia ini, niscaya akan hancurlah kehidupan di atas bumi ini. Maka bagaimanakah nasib orang yang tidak memiliki makanan kecuali zaqqum,”.
HR.  An-nasai dan Tirmidzi.

Oleh karena itu, dalam hadis lain Rasulullah saw. berpesan,”Barangsiapa yang ingin dihindarkan dari siksa nereka dan dimasukkan ke surga, maka berimanlah kepada Allah dan hari akhir, serta berbuat baiklah kepada orang-orang, sebagaimana kamu pun suka apabila mereka berbuat baik kepadamu”.
HR. Ahmad

Sedangkan Ibnu Abbas berkata, yang dimaksud -Ittaqulloha haqqa tuqotih- adalah laksanakanlah perintah Allah itu dengan sebenar-benarnya, janganlah terpengaruh oleh rayuan orang dalam menjalankannya, dan berlaku adillah, baik terhadap diri kamu sendiri, maupun bapak-bapak dan anak-anakmu.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Maksud Ibnu Abbas, apabila rayuan orang-orang itu dapat mempengaruhi diri dalam menjalankan hukum Allah, hingga tidak jadi melaksanakannya, tentu hal itu akan merugikan diri sendiri. Rayuan dan bujukan baik dari golongan jin dan manusia, untuk menggoda orang-orang yang beriman dalam melakukan amal saleh, tidak akan pernah surut, malah justeru akan semakin gencar, sebab setan itu tidak akan pernah senang melihat manusia dalam kebaikan. Janji setan dalam Alquran, -laughwiyannahum ajma’in- “Pasti akan aku sesatkan manusia itu seluruhnya.”
 Q.S. Al-Hijr:39 

Berbahagialah orang-orang yang tidak mengikuti langkah setan, sebab setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Rasulullah saw. pernah dibujuk dan dirayu oleh pamannya sendiri, yaitu Abu Thalib, agar beliau menghentikan dakwahnya, sebab dengan berhenti berdakwah, maka Abu jahal, Abu lahab dan lain-lain musuh Islam itu akan menjadi sahabat karibnya. Selain itu, Rasulullah pun pernah ditawari dan dijanjikan akan mendapatkan tahta, harta dan wanita, apabila beliau berhenti berdakwa, berhenti mendakwahkan kalimat “la ilaha illallah”. Akan tetapi beliau menjawab, wahai pamanku! Jika mereka (orang-orang kafir itu) ditakdirkan bisa menyimpan matahari di sebelah tangan kananku dan bulan di sebelah tangan kiriku, untuk menghentikan dakwahku, maka aku tetap tidak akan berhenti menyampaikan risalah Allah ini.
Al-hadis

Wala tamutunna illa wa antum muslimum” (janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim), maksud ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah, pelihalarah Islam itu dalam keadaan kamu sedang sehat dan selamat agar kamu mati dalam keadaan sedang menjalankan islam seutuhnya”.

Hal ini relevan dengan hadis riwayat Al-Bukhari dari sahabar Ibnu Umar, beliau berkata,”Jika kamu berada pagi hari, janganlah menunggu tiba sore hari, dan jika kamu berada pada sore hari, janganlah menunggu tiba pagi hari, (tapi) ambillah kesempatan sehatmu sebelum masa sakitmu, dan ambillah kesempatan hidupmu sebelum ajalmu datang”.

Selanjutnya Ibnu katsir berkata,”Bila seseorang hidup atas sesuatu, maka mati pun akan atas sesuatu itulah, dan dibangkitkan diakhiran pun akan atas sesuatu itu juga."
(Tafsir Ibnu Katsir)

Maksud perkataan Ibnu Katsir, jika seseorang hidup di dunia ini biasa melakukan kebaikan, setiap waktunya selalu diisi untuk melakukan amal saleh, tidak pernah ketinggalan salat berjamaah, gemar bersadaqah, semangat menuntut ilmu tidak pernah padam dan lain-lain, maka kemungkinan besar orang seperti itu akan mati dalam keadaan demikian, yakni dalam keadaan saleh, dirahmati dan diridai-Nya. Berbahagialah orang yang memiliki nafsul muthmainnah, yaitu orang yang hatinya selalu condong kepada kebaikan, ia selalu menyempatkan waktu, tenaga dan fikirannya untuk melakukan amal saleh. Kesempatan-kesempatan baik yang diberikan Allah kepadanya, tidak dilewatkan begitu saja. Kebaikan itu semua dilakukannya dengan terus-menerus.

Namun sebaliknya, jika seseorang hidup di dunia ini biasa melakukan kemaksiatan, mudah sekali mengerjakan perbuatan dosa dan pelanggaran, kewajiban-kewajiban selalu diabaikannya, kesempatan-kesempatan baik yang diberikan Allah kepadanya, luput begitu saja, setiap waktunya selalu terbuang percuma, harta yang dimilikinya habis mubadzir, tidak jelas untuk apa harta itu digunakan, maka orang seperti itu kemungkinan besar akan mati dalam keadaan demikian, yakni jauh dan rahmat dan rida Allah.

Kita wajib berlindung kepada Allah agar kita dihindarkan dari segala perbuatan dosa, dan memohon kepada-Nya agar kita selalu diberi tenaga untuk melakukan amal-amal saleh sebagai bekal di akhirat kelak. Aamiin

0 komentar:

 
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - Studio Rekaman - Alat Recording